Sabtu, 11 April 2015

Pendidikan Karakter Indonesia



Pendidikan Karakter Indonesia
Pendidikan merupakan sebuah kegiatan manusia yang didalamnya terdapat tindakan edukatif dan didaktis yang diperuntukan bagi generasi yang sedang bertumbuh.       
Karakter dianggap sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai "ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari seseorang yang bersumber dari bentukanbentukan yang diterima dari lingkuangan, misalnya keluarga pada masa kecil dan juga bawaan seseorang sejak lahir”
Pendidikan karakter adalah suatu payung istilah yang menjelaskan berbagai aspek pengajaran dan pembelajaran bagi perkembangan personal.
Beberapa di bawah payung meliputi “ penalaran moral/ pengembangan kognitif ; pembelajaran sosial dan emosional , pendidikan kebijakan moral, pendidikan keterampilan hidup , pendidikan kesehatan , pencegahan kekerasan , resolusi konflik dan filsafat etik moral.
Fungsi pendidikan adalah : 1) pengembangan diri peserta didik (personal development) , 2) Pengembangan ketrampilan kerja (employabillity or work skill development) , 3) Pengembangan kewarganegaraan (cityzenship) , 4) Transmisi dan Transformasi budaya (transmittion andtransformation of culture)
Pendidikan karakter bertujuan mengembalikan nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa yaitu Pancasila, meliputi: 1) Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati,berpikiran daan berperilaku baik. 2) Membangun bangsa yang berkarakter pancasila. 3) Mengembangkan potensi warganegara agar memiliki sikap percaya diri , bangga pada bangsadan negaranya serta mencintai umat manusia. Sedang fungsi pendidikan karakter adalah : 1) membangun kehidupan bangsa yang multikultural. 2) Membangun peradaban bangsa yang cerdas, berbudaya luhur, dan mampu berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan umat manusia. 3) Membangun sikap warga negara yang cinta damai, kreatif , mandiri , dan mampu hidup berdampingan dengan bangsa lain.
Pendidikan karakter dilakukan memlalui berbagai media yaitu keluarga, satuan pendidik masyarakat, pemerintah , dunia usaha , dan media massa.


            Melihat minimnya kepustakaan tentang pendidikan karakter di negeri kita , kita bisa menarik kesimpulan, meskipun selama ini pendidikan karakter dianggap penting tapi dalam pendalamannya tidak semudah yang dibicarakan. Maka dari itu dengan belajar dari pengalaman kita dapat mengembangkan pendidikan karakter, meskipun dengan dsarana dan pemahaman sederhana.
           


Referensi
Yudi Latif, Menyemai karakter bangsa: budaya kebangkitan berbasis kesastraan, Penerbit Buku Kompas, 2009
Doni Koesoema A. ,Pendidikan Karakter, Grasindo, 2007
Mohammad Ali, Pendidikan untuk pembangunan nasional: menuju bangsa Indonesia yang mandiri dan berdaya saing tinggi, Grasindo , 2009
Andi Anto Patak dkk, Proceedings of The 1st Academic Symposium on Integrating Knowledge (The 1st ASIK): Integrating Knowledge with Science and Religion , Ibnu Sina Institute for Fundamental Science Studies, 2014


Nama : Andika Ardianto S
NIM    : 1401050046
PBI B/2

STOP Bullying




STOP Bullying

*Apa itu bullying? Bullying itu:
·         Tindakan yang disengaja oleh si pelaku terhadap korban.
·         Tindakan itu terjadi berulang-ulang.
·         Didasari perbedaan power yang mencolok.
Definisi kata kerja “to bully” dalam Oxford English Dictionary adalah “tindakan untuk menimbulkan rasa sakit atau menyakiti orang lain untuk kepentingan diri sendiri”
Menurut Ken Rigby bullying merupakan sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan ke dalam aksi, menyebabkan seseorang menderita, Aksi ini dilakukan secara Iangsung oleh seseorang atau kelompok yang Iebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan dilakukan dengan perasaan senang.

*Terdapat tujuh faktor yang mempengaruhi terjadinya bullying yaitu:
  • Perbedaan kelas (senioritas), ekonomi, agama, jender, etnisitas atau rasisme.
Pada dasarnya, perbedaan (terlebih jika perbedaan tersebut bersifat ekstrim) individu dengan suatu kelompok dimana ia bergabung, jika tidak dapat disikapi dengan baik oleh anggota kelompok tersebut, dapat menjadi faktor penyebab bullying. Sebagai contoh adanya perbedaan kelas dengan anggapan senior – Junior, secara tidak langsung berpotensi memunculkan perasaan senior lebih berkuasa daripada yuniornya. Senior yang menyalahartikan tingkatannya dalam kelompok, dapat memanfaatkannya untuk mem-bully yunior. Individu yang berada pada kelas ekonomi yang berbeda dalam suatu kelompok juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab bullying. Individu dengan kelas ekonomi yang jauh berbeda dengan kelas ekonomi mayoritas kelompoknya berpotensi menjadi korban.
  • Tradisi senioritas.
Senioritas yang salah diartikan dan dijadikan kesempatan atau alasan untuk membully junior terkadang tidak berhenti dalam suatu periode saja. Hal ini tak jarang menjadi peraturan tak tertulis yang diwariskan secara turun temurun kepada tingkatan berikutnya.
  • Senioritas, sebagai salah satu perilaku bullying seringkali pula justru diperluas oleh siswa sendiri sebagai kejadian yang bersifat laten. Bagi mereka keinginan untuk melanjutkan masalah senioritas ada untuk hiburan, penyaluran dendam, iri hati atau mencari popularitas, melanjutkan tradisi atau menunjukkan kekuasaan.
  • Keluarga yang tidak rukun.
Kompleksitas masalah keluarga seperti ketidakhadiran ayah, ibu menderita depresi, kurangnya komunikasi antara orangtua dan anak, perceraian atau ketidakharmonisan orangtua dan ketidakmampuan sosial ekonomi merupakan penyebab tindakan agresi yang signifikan.


  • Situasi sekolah yang tidak harmonis atau diskriminatif.
Bullying juga dapat terjadi jika pengawasan dan bimbingan etika dari para guru rendah, sekolah dengan kedisiplinan yang sangat kaku, bimbingan yang tidak layak dan peraturan yang tidak konsisten.
  • Karakter individu/kelompok seperti:
a.          Dendam atau iri hati.
b.         Adanya semangat ingin menguasai korban dengan kekuasaan fisik dan daya tarik seksual.
c.          Untuk meningkatkan popularitas pelaku di kalangan teman sepermainannya (peers).
d.         Persepsi nilai yang salah atas perilaku korban.
Korban seringkali merasa dirinya memang pantas untuk diperlakukan demikian (dibully), sehingga korban hanya mendiamkan saja hal tersebut terjadi berulang kali pada dirinya.
*Dampak Bullying
Dampak buruk yang terjadi pada anak yang menjadi korban tindakan bullying antara lain:
a.      Kecemasan
b.      Merasa Kesepian
c.       Rendah diri
d.      Tingkat kompetensi sosial yang rendah
e.      Depresi
f.        Simptom Psikosomatik
g.      Penarikan sosial
h.      Keluhan pada kesehatan fisik
i.        Minggat dari rumah
j.        Penggunaan alkohol dan obat
k.       Bunuh diri
l.        Penurunan performansi akademik

Salah satu langkah besar untuk menyelesaikan kasus bullying adalah dengan menyampaikan, membuka wacana, dan mengajarkan semua pihak yang terlibat kasus ini tentang bagaimana proses terjadinya bullying serta pemahamannya.


Kesimpulan
Bullying adalah suatu tindakan negatif yang merupakan bentuk tindakan yang menyakiti orang lain demi kepuasan diri sendiri,  mencemooh, mengucilkan, melukai, dan segala perbuatan lainnya yang dirasa kurang enak terhadap seseorang yang biasanya berumur sama.









Daftar Pustaka:
Steve Wharton, How to Stop That Bully (Yogyakarta: Kanisius, 2009)
Andri Priyatna, Lets End Bullying. Elex Media Komputindo.
Ponny Retno Astuti,  P.R.2008.Meredam Bullying: 3 Cara Efektif Menanggulangi Kekerasan pada Anak. Jakarta: Grasindo. 


Nama : Andika Ardianto .S
NIM   : 1401050046
PBI B/2